Bisniskulinerindonesia’s

April 12, 2009

Nabati, Energi Alternatif Pengganti BBM

Filed under: Uncategorized — bisniskulinerindonesia @ 10:31 am

Melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan makin menurunnya kualitas udara akibat pembakaran kendaraan bermotor dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan diversifikasi energi terutama pada sektor otomotif sebagai pemakai BBM terbesar. Karena itu perlu dipikirkan energi alternatif pengganti BBM konvensional, seperti pemanfaatan tumbuh-tumbuhan sebagai energi pengganti. Salah satu energi yang berasal dari pemanfaatan tanaman adalah bio-diesel.

Menurut, Nadirman Haska, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bio-diesel adalah bahan kimia yang dipakai sebagai chemical additive untuk minyak diesel atau sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena berasal dari tumbuh-tumbuhan. Saat ini, bahan baku bio-diesel yang paling potensial selain kelapa sawit adalah jarak pagar. Untuk industri di Indonesia, saat ini komposisinya baru 20% bio-diesel dan 80% solar.

“Selain kelapa sawit dan jarak, ada beberapa jenis tumbuhan potensial sebagai bahan baku bio-deisel, seperti kedelai, kapuk, yang mana pengembangannya dapat disesuaikan dengan potensi alam setempat,” ujar Nadirman.

Sebenarnya sejak tahun 2000 bio-diesel kelapa sawit sudah diterapkan, namun kurang populer di Indonesia karena ada beberapa kendala, seperti lemahnya dukungan dari pemerintah dan industri otomotif. “Penggunaan bio-diesel sudah lama diwacanakan, namun sampai detik ini nampaknya produsen otomotif masih enggan menggunakan bahan bakar baru dan terbarukan yang ramah lingkungan ini, “ lanjut Nadirman.

Kelebihan bio-diesel, kandungan partikulat akibat hasil pembakaran jauh lebih rendah, mampu mengurangi asap hitam, dan tidak mengurangi performa mesin. Namun demikian, bio-diesel mempunyai kelemahan, yakni konsumsi bahan bakar cederung boros.

Sementara menurut Jeffry J. Emile, Departement Manager Purchacing Daimler Chrysler Indonesia, bahan bakar bio-diesel cukup populer penggunaanya di beberapa negara. Sebut saja Jerman dan Brasil. Di Jerman saja, sampai saat ini terdapat 1.500 SPBU yang menyediakan bahan bakar bio-diesel.

”Pemakaian bio-diesel juga tidak memerlukan modifikasi mesin. Berfungsi juga sebagai pelumas dan mampu membersihkan injector, serta dapat mengurangi emisi karbon dioksida, partikulat berbahaya, dan sulfur oksida. Harganaya pun terbilang murah. Daimler Chrysler Indonesia siap untuk mengunakan bahan bakar bio-diesel, tapi tentunya melalui tahap-tahap tersendiri,” jelas Jeffry.

Meskipun baru tahapan, proyek percontohan milik BBPT yang berlokasi di PUSPITEK, Serpong, Banten ini sudah mulai diserap pasar. Sampai saat ini tercatat 10 perusahaan industri yang mengkonsumsi bio-disel dari BBPT.

“Bio-diesel telah dikonsumsikan untuk 35 unit kendaraan operasional di lingkungan BPPT. Kami berharap, pemerintah segera mengeluarkan tata niaga bio-diesel agar jelas sistem pendistribusiannya kepada masyarakat,” jelas Nadirman.

Sementara itu, seperti pabrikan otomotif dunia ternama lainnya, Ford telah lama mengumumkan produknya, seperti Ranger dan Everest telah dirancang dapat mengkonsumsi bahan bakar biodisel dengan kandungan 5% campuran minyak.

Ford sendiri telah melakukan pengembangan teknologi mesin yang lebih efisien dalam hal konsumsi bahan bakar, ramah lingkungan, serta dapat menggunakan bahan bakar alternatif baru seperti hybrid, biodisesl, gasohol, hidrogen atau bio-fuel. Ford berupaya menghadirkan teknologi mesin terkini yang sesuai dengan regulasi lokal mengenai tingkat emisi terbaru di pasar global, termasuk AS dan Eropa.

Kendala Bio-diesel

Menurut penelitian Departemen Pertanian, bahan baku bio-diesel yang paling potensial adalah kelapa sawit (crude palm oil) dan jarak pagar (Jatropa Curcas Linneans). Departemen Pertanian juga melaporkan bahwa lahan kritis yang berpotensi untuk pengembangan jarak pagar di Indonesia mencapai 21,9 juta hektar terutama wilayah Indonesia Timur, meliputi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku dan Papua.

Tumbuhan ini tergolong semak-belukar (shrub) dan mampu hidup hingga 50 tahun. Kelebihan tanaman ini mudah dikembangkan di daerah kering. Jarak pagar cukup mudah ditanam dengan menebarkan benih atau stek. Jarak tanamnya tergantung kebutuhan, biasanya 75-100 cm. Dalam waktu sekitar lima sampai delapan bulan sudah mulai berbuah.

Energi yang dihasilkan bio-diesel tidak berbeda jauh dengan minyak solar biasa 128.000 BTU, sementara minyak solar biasa 130.000 BTU, sehingga tenaga yang dihasilkan dari pembakarannya relatif sama. Bio-diesel lebih aman dan tingkat toksisitasnya jauh lebih rendah serta mudah diurai (bio-degradable) menjadi sejenis gula dextrose. Penggunaan bio-diesel akan mengurangi laju pertambahan gas rumah kaca.

Penelitian oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan BPPT menunjukkan pemakaian bio-diesel pada kendaraan dapat menurunkan tingkat emisi untuk beberapa parameter terutama PM, NOx dan Sox. Selain itu bio-diesel dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2).

Namun ada beberapa kendala pengembangan BBM nabati khususnya bio-diesel, diantaranya yakni soal spesifikasi, harga, dan pasar.

Spesifikasi. Sampai saat ini kesepakatan tentang konsentrasi bio-diesel dalam BBM otomotif adalah B-5 yang berarti solar lama dengan tambahan 5% bio-diesel. Sementara itu Standar Nasional Indonesia (SNI) bio-diesel masih dalam proses penyelesaian.

Harga. Bila akan bersaing dengan BBM lama, harga bio-diesel harus lebih lebih rendah dari harga solar lama. Faktor harga ini terkait dengan ketersediaan bahan baku BBM nabati. Selama ini belum ada insentif bagi pengembangan bahan baku BBM nabati khususnya bio-diesel. Apabila bio-diesel ini diproduksi dari minyak jarak kemungkinan harganya bisa bersaing.

Pasar. Kendala pasar ini terganjal masalah ijin penjualan di SPBU secara legal. Selain itu juga masih terganjal pula dengan masalah sustainable dari supply bio-diesel dari produsen.

Saat ini diperkirakan lebih dari 500 juta mobil beredar di jalan-jalan di dunia. Jumlah tersebut akan terus berlipat dalam 10 tahun mendatang, hingga jumlahnya diperkirakan mencapai 1 milyar unit. Menurut data US Embassy, kebanyakan, pertumbuhan kendaraan yang pesat justru terjadi di negara-negara berkembang, yang permintaan untuk kendaraan roda empatnya diperkirakan meningkat 200% di akhir abad ini.

Untuk itu energi alternatif yang ramah lingkungan dan dapat diperbarui mutlak diperlukan. Misalnya, pilihan lain adalah “mengoksigenasi” bahan bakar konvensional dengan menambahkan alkohol. Gasohol (bensin dan alkohol) semacam itu terbakar lebih sempurna, dan dengan demikian menurunkan emisi karbon monoksida. Bahan bakar diesel dengan tingkat sulfur yang diturunkan mengeluarkan sulfur dioksida dan polutan lain yang lebih sedikit. Jenis-jenis bahan bakar hasil formulasi ulang dapat secara sendiri-sendiri menurunkan tingkat emisi sampai 30 persen, seperti yang terjadi di bagian Timur Laut AS ketika pertama kali diwajibkan di akhir 1980-an.

Pilihan lain yang lebih baik adalah alternatif non-petroleum seperti metanol, etanol, gas alam yang dimampatkan atau gas petroleum cair, hidrogen atau baterai listrik, karena bahan-bahan tersebut sama sekali menghapus pencemaran oleh pipa knalpot.

Karena itu, mulai sekarang Indonesia harus melakukan dan melaksanakan langkah serius dan antipatif terhadap persoalan tersebut. Pasalnya, selain mengadapai persoalan lingkungan, minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 15-20 tahun, gas alam dalam waktu 35-40 tahun dan batubara dalam waktu 60-75 tahun. Bahkan Presiden SBY beberapa waktu lalu pernah mentakan bahwa minyak Indonesia akan habis dalam 15 tahun, gas alam dalam 60 tahun dan batubara dalam 150 tahun.

Kesimpulannya, penggunaan sumber daya alam hidrokarbon, terutama bahan bakar minyak perlu direduksi untuk menghindari semakin parahnya krisis energi di masa yang akan datang. Melambungnya harga BBM menyebabkan banyak sekali reaksi dari masyarakat. Namun bila dicermati, sebagian besar reaksi tersebut memperhitungkan kenaikan harga BBM, yang semata-mata dari sisi makroekonomi saja. Seakan-akan diasumsikan bahwa sumber daya minyak adalah sumber daya alam yang tidak akan pernah habis.

Untuk itu kita semua harus menyadari bahwa suatu saat BBM akan habis. Kalaupun tidak dirasakan oleh kita sendiri, anak cucu kita yang akan merasakannya. Dengan begitu, semua argumen tentang kenaikan harga BBM tanpa memperhitungkan faktor kelangkaan energi tidaklah lengkap dan perlu mendapat revisi yang menyeluruh.

Selain itu, kita semua, setidaknya harus percaya dan mendukung bahwa jalan kolaborasi antara para stakeholder, seperti perusahaan energi, produsen otomotif, sektor agrikultur, seiring dengan kebijakan pemerintah yang jelas dan berkelanjutan, dapat memfasilitasi perubahan pola konsumsi BBM saat ini menuju bahan bakar alternatif yang dapat diperbarui dalam jangka waktu panjang.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: